Kembali Kepada Diri Sendiri

Standard

5571b83900b6daeb412da03cdc1006a1Saya kembali menuliskan cerita ini setelah membaca buku oleh Prasetya M. Brata dengan judul “Provokasi”, halaman 126-127.

Ada seorang mandor bangunan yang minta kepada atasannya untuk pensiun setelah 20 tahun bekerja. Tabungannya sudah banyak. Ketika permohonan berhenti diajukan, si Bos keberatan. “Proyek kita masih banyak, nanti bagaimana dong, saya susah cari orang yang kayak kamu. Kerjamu bagus,” alasan si Bos. Si Mandor ngotot. Lama-lama akhirnya si Bos menyerah. “Oke, kalau itu keinginanmu, saya kabulkan dengan satu syarat. Tolong buatkan saya satu rumah lagi.”

Yaah bos, saya sudah ngebet ingin pensiun,” kata si Mandor.

Alaah, satuu lagi saja… Cuma satu kok,” jawab si Bos.

Akhirnya si Mandor tadi mengiyakan dengan ogah-ogahan. Ia kemudian mengerjakan pesanan satu rumah terakhirnya. Karena pikirannya sudah tidak fokus, ingin segera pensiun dan beristirahat, ia yang biasanya bekerja dengan penuh ketekunan, kali ini bekerja terburu-buru. Pengecatan cukup sekali, padahal biasanya tiga kali. Lantai tidak rata. Kusen kurang lurus. Tidak seperti biasanya, hasil kerjanya kali ini kurang bagus. Tapi ia tidak peduli karena yang ia pikirkan adalah segera pensiun. Toh, habis ini tidak ada tugas lagi. Titik.

Setelah selesai lebih awal dari jadwal normal, si Mandor menghadap bos di kantor. “Bos, pesanannya sudah jadi, silahkan dilihat di lokasi.” Si Bos mengambil kunci rumah yang disodorkan oleh si Mandor, kemudia ia berkata, “Aku senang kamu selesai lebih cepat. Atas pengabdianmu selama 20 tahun, dan demi persahabatan kita, ambil kunci ini. Aku serahkan rumah itu buat bekal pensiunmu …” Gubrak! Si Mandor menyesal sejadi-jadinya.

Segala sesuatu yang kita lakukan akan kembali kepada diri kita sendiri. Kalau kita bekerja dengan penuh kualitas, hasilnya akan “penuh” pula kembali kepada kita. Kalau kita kerja bagus, kita juga dapat bagus. Dan sebaliknya.