Kekuatan Kata “Belum”

Standard

Taste your words before you spit them out.

Saya teringat pengalaman menarik pada saat menjalani tes kerja di suatu perusahaan. Proses saat itu terbilang cukup sederhana dan dapat diselesaikan dalam waktu yang singkat. Pada saat semua proses itu telah dilalui, saya pun diterima oleh calon user. Nah, menariknya ada pertanyaan yang nyangkut di bagian akhir, “Andrio, kamu sudah diterima di perusahaan ini. Tapi saya lupa nanya, kamu bisa nyetir kan ya karena posisi ini require orang yang diharuskan mobile.”

Jleb. Saya tidak pernah membayangkan akan ada pertanyaan seperti ini. Yang sempat terpikir hanyalah berupa amunisi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan standar pada saat wawancara seperti yang sering saya baca di berbagai artikel di internet. Sayangnya saat itu saya belum bisa menyetir mobil karena di pekerjaan sebelumnya tidak ada tuntutan untuk skill tersebut. Bisa mengendarai motor saja sudah cukup.

Jawaban spontan saya saat itu adalah, “Saya belum bisa nyetir mobil Pak untuk saat ini. Tapi saya bisa belajar dan saya yakin pasti bisa.” Seandainya saat itu saya memilih kata “tidak” ketimbang “belum” (Saya tidak bisa nyetir), saya tidak tahu keputusan akhir apa yang akan diambil oleh calon user. Seandainya calon user saya saat itu juga tidak percaya dengan apa yang saya sampaikan, mungkin saya tidak pernah diterima di perusahaan tersebut.

Sejak saat itu, kata “belum” mempunyai makna kuat bagi saya mengenai arti sebuah janji dan proses. Janji yang saya berikan kepada calon atasan atau pun orang lain dan proses belajar mengenai hal baru yang harus saya lalui. Sebuah proses untuk belajar dan memperbaiki diri dibandingkan dengan kondisi saat ini. Kata ini dapat membantu saya untuk mengidentifikasi current condition dengan ideal condition yang hendak dicapai. So, mind your words. Semoga kata yang sederhana ini juga dapat membantu Anda dalam kehidupan profesional dan juga personal.

Yet

The power of yet