On communication

Standard

The meaning of our communication relies on the response that we get from others once the communication occured. If the recipients understand the meaning of the conveyed messages, then the communication can be deemed as an effective one. But when it goes another way around, there must be something to look at. Therefore, evaluate ourself in communicating before pointing fingers to others. 

As stated above, if the responses are not as expected, there are two things that might be wrong or missed. They are: 

  1. The messages or words are not clear enough for others to understand (what)
  2. The way we deliver the messages does not suit the style of others (how)

In order to have the messages to be understood by others, ensure that we are communicating in accordance with others’ preferred style, i.e. Expressive, Amiable, Direct or Analytical. The four-style in communication is well known as Business Behaviour Styles (BBS). This will be discussed in separate article. Meanwhile, prevent ourself from generalizing others when it comes to communicate. Some love data in details (head) others might love small talk and pure relationship in communication (heart). Do know others and be CURIOUS!

Treat others as THEY want to be treated. 

On asking questions

Standard

In one training, a senior manager ended his presentation and humbly asked, “Do you have any questions in regards to what I’ve presented to you?”. Subsequently, one participant excitedly asked a question and this question was directly answered by the manager. The manager then threw question to others whether they have more questions in mind or not. No one was answering. No questions from them.

The same thing happened again. One presented and then no questions or even no comments. But the second presenter gave a striking comment to the participant. Here is the comment that I learned.

By not asking or commenting to anything that has been presented does not surely mean that you are all smart. But by not communicating, the top management would ask about your contribution to the company if you can’t present your ideas. They will be wondering why should they invite you to the meeting if you don’t have any contribution. Next time, you will surely won’t be invited.

Giving an “intelligent” question is not as easy as it seems. That’s why the management will require a person who have the ability of asking smart question or giving constructive comment to the fact that has been provided.

images.jpg

By being silence means you’re communicating among the two: you perfectly understand the idea or you totally have no idea of the issues. Therefore, it’s much better for you to put attention to the presentation and ask question or give comments accordingly.

Remember: You cannot not communicate. Everyone will have a judgment toward your way of communication, even its a silence.

Tentang lanjut kuliah S2

Standard

masters

Q: Bang, saya sudah selesai S1 nih. Alhamdulillah bang, bisa lulus dengan pujian a.k.a cum laude. Pengennya sih setelah ini bisa kerja di perusahaan multinasional agar kemampuan Bahasa Inggris tetap bisa digunakan. Tapi setelah 6 bulan apply dan nunggu, belum ada titik terang bang.

Belum ada yang jodoh. Nah, apa baiknya langsung S2 aja bang kayak beberapa teman yang lain?

A: Nah, ini nih yang nantinya bikin ribet. Lulus S1 saja susah cari kerja kan, apalagi lulus S2 without any employment experience. Menurut abang, lebih baik cari pengalaman dulu sebelum memutuskan lanjut kuliah. Logical steps-nya seperti ini kalau ingin berkarir di dunia profesional: Kerja –> Kerja –> Kuliah –> Kerja. Perkaya terlebih dahulu pengalamannya di kerja agar tahu hal apa yang ingin dipelajari. Misalnya, bekerja di HR dan ingin tahu lebih dalam mengenai bidang ini, ambillah S2 yang terkait dengan HR agar dapat men-support karir ke depannya.

Sayang kalau kuliah S2 hanya untuk mengisi waktu sambil cari kerja atau malah hanya mencari pelarian karena tidak dapat kerja. Buatlah orang tua senang dalam waktu cukup panjang setelah melihat anak kesayangannya diwisuda. Sekiranya memang belum rezekinya, berkecimpunglah di kegiatan-kegiatan sosial atau pun akademis yang bisa memperluas jaringan sembari belajar.

Akan tetapi, menjadi berbeda jika memang tujuannya adalah untuk menjadi dosen atau agar diterima di pekerjaan yang menuntut harus S2 terlebih dahulu. Intinya adalah, jadikan alasan untuk lanjut kuliahmu sangat jelas dan jadikan S2 itu sebagai kebutuhan, bukan keinginan. Jika butuh S2, butuh ilmu yang lebih jauh lagi, ambil master degree. Jika tidak atau belum butuh, tunggulah terlebih dahulu. Jangan ikutan tren. InsyaAllah bisa! 🙂

Menciptakan Masa Depan

Standard

 

How do we create the future?

To be honest, saya adalah orang yang tidak pernah serius memikirkan masa depan nantinya seperti apa; pekerjaan apa yang akan dijalani, keluarga seperti apa yang akan dibangun, kematian seperti apa yang diinginkan.  😀

Just let it flow! Tidak perlu mikir panjang, nanti banyak keriput. Katanya sih, “Biarkan hidup mengalir seperti air”. Bagus kalau air mengalir ke tempat yang lebih baik. Kalau misalnya ke got bagaimana? Apakah harus tetap menerima saja? Pasrah? Untung saja saat itu airnya masih mengalir ke tempat yang bagus.

Saya sangat passionate untuk menjadi dosen. Akan tetapi, akhirnya saya hanya mengikuti peluang yang ada setelah menyelesaikan kuliah. Tak jelas arah yang mau dituju. Saya pun mengikuti program pertukaran pemuda, menjadi guru les Bahasa Inggris untuk siswa SD hingga karyawan, menjadi penerjemah dokumen di NGO hingga menjadi guru SD. Menurut saya sih random ya. Benar-benar tidak ada tujuan yang jelas.

Hal sederhana seperti ini baru sempat terpikir setelah saya mengikuti pelatihan 7 Habits. Saat itu disampaikan bahwa hidup harus dimulai dengan cara melihat tujuan akhir yang kita inginkan, “begin with the end in mind”. Dengan demikian, segala tindakan kita di hari ini harus ada korelasinya dengan tujuan akhir tersebut.

Oleh karena itu, sebaiknya sempatkan untuk bertanya kepada diri sendiri:

  • Pekerjaan seperti apa yang ingin saya jalani agar saya dapat memberi kontribusi bagi orang banyak?
  • Keluarga seperti apa yang ingin saya bangun agar semua orang di dalamnya dapat berbahagia lahir dan batin serta dapat berkumpul bersama di surga?
  • Hal apa yang dibicarakan oleh orang-orang sepeninggal saya nantinya mengenai perbuatan saya di masa hidup?

Buatlah daftar tindakan yang akan membantu untuk mencapai tujuan akhir tersebut. Jangan sampai kita melakukan hal-hal yang tidak relevan dengan harapan di masa depan. Yuk, ingat kata-kata Om Lincoln, “The best way to predict the future is to create it” dan juga dari Om Gallagher, ”Life is the sum of what you focus on”.

Selamat menciptakan masa depan!

forecast-crystal-ball-prediction

Raise the bar!

Tentang Ikhlas: Belajar dari Gula Pasir

Standard

Gula pasir

Gula pasir memberi rasa manis pada kopi tetapi orang menyebutnya kopi manis bukan kopi gula

Gula pasir memberi rasa manis pada teh tetapi orang menyebutnya teh manis bukan teh gula

Gula pasir memberi rasa manis pada es jeruk tetapi orang menyebutnya es jeruk manis bukan es jeruk gula

Orang menyebut roti manis bukan roti gula

Orang menyebut sirup pandan, sirup apel, sirup jambu; padahal bahan dasarnya gula

Tetapi gula tetap ikhlas larut dalam memberi rasa manis

Akan tetapi, apabila berhubungan dengan penyakit, barulah gula disebut penyakit gula …

Begitulah hidup, kadang kebaikan yang kita tanam tak pernah disebut orang …

Tetapi kesalahan akan dibesar-besarkan …

 

Ikhlaslah seperti gula … Larutlah seperti gula …

Tetap semangat memberi kebaikan …

Tetap semangat menyebar kebaikan …

Karena kebaikan tidak untuk disebut tetapi untuk dirasakan …

 

Source: Other WordPress

Kekuatan Kata “Belum”

Standard

Taste your words before you spit them out.

Saya teringat pengalaman menarik pada saat menjalani tes kerja di suatu perusahaan. Proses saat itu terbilang cukup sederhana dan dapat diselesaikan dalam waktu yang singkat. Pada saat semua proses itu telah dilalui, saya pun diterima oleh calon user. Nah, menariknya ada pertanyaan yang nyangkut di bagian akhir, “Andrio, kamu sudah diterima di perusahaan ini. Tapi saya lupa nanya, kamu bisa nyetir kan ya karena posisi ini require orang yang diharuskan mobile.”

Jleb. Saya tidak pernah membayangkan akan ada pertanyaan seperti ini. Yang sempat terpikir hanyalah berupa amunisi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan standar pada saat wawancara seperti yang sering saya baca di berbagai artikel di internet. Sayangnya saat itu saya belum bisa menyetir mobil karena di pekerjaan sebelumnya tidak ada tuntutan untuk skill tersebut. Bisa mengendarai motor saja sudah cukup.

Jawaban spontan saya saat itu adalah, “Saya belum bisa nyetir mobil Pak untuk saat ini. Tapi saya bisa belajar dan saya yakin pasti bisa.” Seandainya saat itu saya memilih kata “tidak” ketimbang “belum” (Saya tidak bisa nyetir), saya tidak tahu keputusan akhir apa yang akan diambil oleh calon user. Seandainya calon user saya saat itu juga tidak percaya dengan apa yang saya sampaikan, mungkin saya tidak pernah diterima di perusahaan tersebut.

Sejak saat itu, kata “belum” mempunyai makna kuat bagi saya mengenai arti sebuah janji dan proses. Janji yang saya berikan kepada calon atasan atau pun orang lain dan proses belajar mengenai hal baru yang harus saya lalui. Sebuah proses untuk belajar dan memperbaiki diri dibandingkan dengan kondisi saat ini. Kata ini dapat membantu saya untuk mengidentifikasi current condition dengan ideal condition yang hendak dicapai. So, mind your words. Semoga kata yang sederhana ini juga dapat membantu Anda dalam kehidupan profesional dan juga personal.

Yet

The power of yet

 

Kembali Kepada Diri Sendiri

Standard

5571b83900b6daeb412da03cdc1006a1Saya kembali menuliskan cerita ini setelah membaca buku oleh Prasetya M. Brata dengan judul “Provokasi”, halaman 126-127.

Ada seorang mandor bangunan yang minta kepada atasannya untuk pensiun setelah 20 tahun bekerja. Tabungannya sudah banyak. Ketika permohonan berhenti diajukan, si Bos keberatan. “Proyek kita masih banyak, nanti bagaimana dong, saya susah cari orang yang kayak kamu. Kerjamu bagus,” alasan si Bos. Si Mandor ngotot. Lama-lama akhirnya si Bos menyerah. “Oke, kalau itu keinginanmu, saya kabulkan dengan satu syarat. Tolong buatkan saya satu rumah lagi.”

Yaah bos, saya sudah ngebet ingin pensiun,” kata si Mandor.

Alaah, satuu lagi saja… Cuma satu kok,” jawab si Bos.

Akhirnya si Mandor tadi mengiyakan dengan ogah-ogahan. Ia kemudian mengerjakan pesanan satu rumah terakhirnya. Karena pikirannya sudah tidak fokus, ingin segera pensiun dan beristirahat, ia yang biasanya bekerja dengan penuh ketekunan, kali ini bekerja terburu-buru. Pengecatan cukup sekali, padahal biasanya tiga kali. Lantai tidak rata. Kusen kurang lurus. Tidak seperti biasanya, hasil kerjanya kali ini kurang bagus. Tapi ia tidak peduli karena yang ia pikirkan adalah segera pensiun. Toh, habis ini tidak ada tugas lagi. Titik.

Setelah selesai lebih awal dari jadwal normal, si Mandor menghadap bos di kantor. “Bos, pesanannya sudah jadi, silahkan dilihat di lokasi.” Si Bos mengambil kunci rumah yang disodorkan oleh si Mandor, kemudia ia berkata, “Aku senang kamu selesai lebih cepat. Atas pengabdianmu selama 20 tahun, dan demi persahabatan kita, ambil kunci ini. Aku serahkan rumah itu buat bekal pensiunmu …” Gubrak! Si Mandor menyesal sejadi-jadinya.

Segala sesuatu yang kita lakukan akan kembali kepada diri kita sendiri. Kalau kita bekerja dengan penuh kualitas, hasilnya akan “penuh” pula kembali kepada kita. Kalau kita kerja bagus, kita juga dapat bagus. Dan sebaliknya.

Otobiografi Sebuah Cangkir

Standard

A cup of milkPasangan itu memutuskan bertamasya ke Inggris untuk merayakan ulang tahun perkawinan mereka yang ke-25. Keduanya menyukai barang antik, khususnya cangkir. Dan begitulah, mereka memasuki toko demi toko untuk menambah koleksi cangkir antik mereka. Dan, ada sebuah cangkir yang sangat menarik perhatian sang nyonya. Cangkir yang sangat cantik.

“Engkau pasti tak tahu” tiba tiba cangkir di tangannya itu berbisik. “Dulunya aku sama sekali bukan cangkir …”

Agak terkejut dan gugup dia, tapi si nyonya diam saja, ingin mendengar apa yang akan dikatakan cangkir itu lebih lanjut.

“Dulunya warnaku merah. Merahnya tanah liat. Lalu Dia yang empunya aku mengambilku, menggulungku, menepuk-nepuk dan memukulku berulang-ulang sampai aku berteriak, ‘Lepaskan aku, lepaskan aku,’ tetapi Dia hanya tersenyum dan berkata: ‘Tahankan dulu, tahankan dulu, belum waktunya; engkau akan berguna pastinya.”

“Lalu Dia memindahkan aku ke sebuah meja putar. Dengan kakinya tiba tiba dia memutar meja itu dengan amat kencang, terus, terus dan terus sampai aku merasa pusing. ‘Hentikan, hentikan, hentikan!’ aku berteriak, tapi Dia hanya memandangiku dan berkata: ‘Tahankan dulu, tahankan dulu, belum waktunya; engkau akan berguna pastinya.”

“Akhirnya terbuka juga pintu oven yang panas itu. Aku diletakkannya pada sebuah rak. Aku mulai merasa nyaman dan dingin. Tapi baru saja merasakan ademnya udara, aku diangkatnya, Dia menyikatku dengan keras, lalu dicatnya dan dilukisnya seluruh tubuhku. Bau cat itu sungguh tak enak. Aku seakan tercekik. ‘Hentikan!’ teriakku. Kali ini aku menangis. Tapi dia masih dengan tenangnya memandangiku dan berkata: ‘Tahankan dulu, tahankan dulu, belum waktunya; engkau akan berguna pastinya.”

“Dia lalu mengangkatku lagi. Kukira dia sudah selesai, tapi ternyata belum. Malahan kini dia memasukkan aku ke dalam oven yang lain dan, ya ampun, kali ini bahkan dua kali lebih panas dari oven sebelumnya. Dalam hati aku sudah ingin menyerah saja dan melupakan semuanya: selamat tinggal dunia!

Tetapi mengingat tujuan Nya yang ingin membuat aku menjadi barang yang berguna, aku pasrah saja dan bertahan terus. Kupikir, adalah indah kalau hidupku menjadi berkat bagi sesama, menjadi anugrah bagi dunia. Pikiran itu membuatku bertambah kuat.

Tiba-tiba pintu oven dibuka. Dia mengangkatku dan meletakkan aku di rak yang bersih. Lalu Dia mengambil cermin dan berkata, ‘Sekarang lihatlah dirimu.’ Di kaca aku melihat sesuatu yang indah. ‘Ah, itu pasti bukan aku. Tak mungkin itu aku. Betapa indahnya. Akukah itu. Aku jadi cantik sekali sekarang.”

“Lalu Dia menimang-nimang aku sekali lagi dan berkata, ‘Ingatlah. Aku tahu bagaimana sakitnya digulung, dipukul, dibakar, digosok dan ditempa, tetapi Aku tak pernah meninggalkanmu hingga engkau menjadi yang sebaik-baiknya akhirnya. Kini engkau telah menjadi dirimu yang ada di pikiran Ku sejak Aku mulai membentukmu dahulu.”

 

Learning point:

Mengenali diri sendiri serta memahami bahwa setiap situasi yang kita hadapi ditujukan untuk menghebatkan diri agar menjadi pribadi terbaik.

Diadopsi dari buku “Kafe Etos” oleh Jansen Sinamo, hal. 98-100.

Kisah Wazir dan Sultan

Standard

Sultan

“Win through your actions, never through argument”

Dahulu, ada seorang Wazir (penasihat) yang terkenal setia dan bijaksana melayani Sultan-nya. Wazir tersebut tidak pernah mengeluhkan pekerjaannya dan selalu melalukan yang terbaik bagi Sultan. Sang Sultan pun mempercayakan hal-hal yang penting kepada Wazir. Sayangnya, ia memiliki beberapa musuh di kerajaan yang iri hati terhadap loyalitasnya pada Sultan.

Musuh-musuhnya bersekongkol memfitnah Wazir dengan menyatakan bahwa Wazir tidak loyal terhadap Sultan.

Sultan yang terpengaruh kemudian memanggil Wazir kehadapannya untuk diadili. Sultan memutuskan hukuman mati bagi Wazir atas tuduhan pengkhianatan. Sebagai hukumannya, Wazir akan dilahap anjing-anjing ganas yang siap memangsanya.

Anehnya, Wazir memutuskan untuk tidak mengajukan satu gugatan pun atas putusan Sang Sultan. Namun, Wazir hanya menyampaikan permintaan terakhir sebelum ia dieksekusi. Ia meminta waktu 10 hari agar dapat mencari penjaga anaknya setelah ia dieksekusi. Dia juga berjanji tidak akan melarikan diri.

Sang Sultan mengabulkan permintaan terakhir tersebut.

Sesampainya di rumah, Wazir langsung mengambil sekantong emas yang dia simpan bertahun-tahun lamanya dan langsung kembali ke istana. Disana, ia bertemu dengan penjaga anjing dan menanyakan apakah ia dapat membeli anjing-anjing tersebut. Penjaga anjing tidak dapat menolak tawaran tersebut dan menyerahkan sekawanan anjing ganas pada Wazir.

Selama 10 hari, Wazir merawat dan menjaga anjing-anjing tersebut dengan sangat baik. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk memperhatikan mereka. Bahkan keluarganya sempat terheran-heran dengan perilakunya.

Setelah 10 hari, tibalah saatnya eksekusi akan dilaksanakan. Sang Wazir terlihat tenang menunggu eksekusinya. Ia diikat dan dimasukkan ke tempat dimana ia akan diserang anjing ganas. Semua orang termasuk Sultan terkejut menyaksikan apa yang terjadi di hadapannya. Anjing-anjing tersebut tidak menyerang Wazir, sebaliknya malah bermain-main dan menyalak kegirangan karena bertemu majikannya.

Sultan masih kebingungan dengan apa yang baru saja ia lihat. Sultan kemudian meminta agar Wazir dibawa ke hadapannya untuk menjelaskan apa yang sudah terjadi. Sang Wazir menyampaikan pada Sultan bahwa dia hanya melakukan hal yang sederhana. Dia menunjukkan belas kasih, dedikasi dan kesabaran pada anjing-anjing tersebut dalam waktu 10 hari. Hal yang sama, bahkan lebih, juga sudah ia tunjukkan pada Sultan selama 30 tahun melayani Sultan beserta keluarga kerajaan. Sayangnya, kesetiaannya dibalas dengan hukuman mati hanya dikarenakan mendengar fitnah dari musuh-musuhnya.

Sultan pun menyadari kesalahan yang telah ia lakukan. Ia langsung membebaskan Wazir dan memberinya pakaian yang sangat bagus. Sultan juga menyerahkan orang-orang yang sudah mencoba merusak reputasi Wazir. Wazir memaafkan orang yang telah memfitnah dirinya dan memperlakukan mereka dengan baik.

 

Learning point:

Put them into commentary boxes, will you? 🙂

 

Diadopsi dari “The 48 Laws of Power” by Robert Greene

 

You are what you think

Standard

Art by Leo Tabibzadegan

Watch your thoughts, they become words.

Watch your words, they become actions.

Watch your actions, they come habits.

Watch your habits, they become your character.

Watch your character, it becomes your destiny.